Rabu, 28 Oktober 2009
ASEAN Satukan Suara Hadapi Perubahan Iklim
Dalam pernyataan bersama tersebut, ASEAN mengimbau pada negara-negara Annex 1 untuk segera menurunkan dengan tajam emisi gas rumah kacanya. Djauhari menuturkan bahwa dalam permasalahan perubahan iklim ini, negara-negara maju harus ikut dalam upaya menurunkan emisi karbon, demikian pula untuk negara-negara berkembang. Selain itu, ASEAN juga menyerukan pada negara-negara di kawasan untuk menjaga pantai dan lautnya dari kerusakan akibat efek negatif dari perubahan iklim.
Untuk menyukseskan Konferensi Iklim di Kopenhagen, November mendatang, negara-negara ASEAN juga telah berkomitmen lebih mempererat kerja sama antarnegara anggota dan negara mitra. Menurut Djauhari, menindaklanjuti pernyataan bersama ini, Menteri Lingkungan Hidup dari negara-negara anggota ASEAN untuk membahas masalah lingkungan. "Mereka akan bertemu pada Desember tahun ini di Singapura," katanya.
Selain dibahas dalam pertemuan tingkat kepala negara atau pemerintahan negara-negara ASEAN, masalah perubahan iklim ini juga dibahas dalam pertemuan ASEAN dengan Republik Korea dalam KTT ASEAN ke-15. Dalam pertemuan dengan negara-negara ASEAN tersebut, pemerintah Korea Selatan menyatakan mengalokasikan dana sebesar 100 juta dollar AS untuk mendukung ASEAN menghadapi perubahan iklim. Dana tersebut juga akan digunakan untuk pengelolaan air bersih.
Sementara itu lembaga penggiat lingkungan Greenpeace Asia Tenggara meminta pimpinan ASEAN untuk lebih memperhatikan masalah perubahan iklim. Menurut Manajer Kampanye Greenpeace Asia Tenggara Tara Buakamsri, penduduk ASEAN telah merasakan akibat dari perubahan iklim.
Menurut dia, negara-negara di ASEAN harus berkomitmen untuk menghentikan penggundulan hutan dan melaksanakan pembangunan yang rendah karbon, serta melaksanakan kesepakatan dalam Konferensi Kopenhagen yang akan dilaksanakan di akhir tahun 2009 ini.
Kamis, 22 Oktober 2009
Cacing Laut "Pengebom" Bercahaya
Ini bukan cacing biasa, tetapi cacing istimewa yang mengeluarkan cahaya warna-warni pada kedalaman laut lebih dari 3.500 meter.
Para peneliti dari Scripps Institution of Oceanography di Universitas California, San Diego, AS, menemukan keberadaannya ribuan kaki di bawah permukaan laut sisi barat dan timur laut Samudra Pasifik. Mereka menyebut kelompok cacing spesies baru Swima bombiviridis itu sebagai ”pengebom hijau”.
Bukan hanya tubuh yang bercahaya, tetapi bagian tubuh yang dilepaskannya pun hijau kemilau. Cacing berukuran 3/4 hingga 4 inci itu melepaskan bagian tubuhnya yang berwarna satu atau dua kali. Diameter bagian tubuh yang terlepas atau ”bom” itu antara 1-2 milimeter.
Para peneliti menginterpretasikannya sebagai mekanisme menghindari mangsa. Pasalnya, cacing-cacing itu langsung berenang menjauh seusai melepaskan ”bom”, yang bisa tergantikan lagi itu.
Ketua tim peneliti, Karen Osborn, menyatakan, cacing itu sebenarnya bukan binatang langka. Sering kali, melalui wahana bawah laut yang dikendalikan jarak jauh, mereka menemukan koloni serupa. Keunikannya, cara mengambil sampel di habitatnya itulah yang tidak mudah.
Kini tim peneliti memiliki sejumlah cacing di laboratorium. Salah satunya untuk mengetahui kandungan bahan kimia yang menghasilkan tubuh bercahaya.
Temuan itu, lanjut Osborn, menjelaskan seberapa banyak informasi yang dunia ketahui tentang organisme dan keanekaragaman laut dalam.Kutub Bakal Tak Punya Es
Pemimpin ekspedisi dan pakar es lautan dari University of Cambridge, Peter Wadhams, mengatakan, pada musim semi tahun lalu rata-rata ketebalan es hanya 1,8 meter, menandakan usia lapisan itu sekitar satu tahun. Sementara itu, es yang sudah bertahun-tahun sekitar 3 meter.
Tipisnya lapisan tersebut menjadi indikasi penting kondisi memprihatinkan es di Laut Artik. ”Secara sederhana, es tipis itu akan sekejap hilang pada musim es mulai meleleh,” ujarnya. Angin dan arus laut dapat pula memecah es yang tipis itu. Es yang terpecah dan mengapung bebas akan mudah terdorong ke wilayah perairan yang lebih hangat dan mencair. Catlin Arctic Survey dan kelompok konservasi internasional WWF mendukung penemuan tersebut.
Situasi es di Artik tersebut sangat dipengaruhi iklim dan kondisi alam. Kondisi es di Laut Artik kerap pula dikaitkan dengan perubahan iklim dan pemanasan global.Peneliti Australia Susun Atlas Burung di Indonesia
SALATIGA, - Peneliti biologi konservasi dari Universitas Charles Darwin Australia Dr Richard Noske berencana mengajak lembaga swadaya masyarakat dan peneliti Indonesia menyusun atlas burung di Indonesia mulai tahun depan. Atlas itu diharapkan menjadi basis data, sekaligus membangkitkan kepedulian konservasi burung berikut habitatnya
Selama ini di Indonesia belum ada atlas burung. Atlas itu antara lain berisi pemetaan persebaran burung, jenisnya. "Saya sudah berbicara dengan beberapa peneliti Indonesia untuk bersama-sama menyusunnya," kata Richard Noske saat memberi kuliah umum Tropical Bird di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah, Senin (19/10).
Menurut dia, program itu akan dimulai pada tahun 2010 dengan proyek percontohan mengambil tempat di Pulau Jawa. Dalam bayangannya, atlas itu akan membagi Indonesia dalam enam subbagian, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Papua.
Setiap subbagian itu akan dibagi kembali sesuai karakteristiknya masing-masing. Dia memperkirakan penelitian ini membutuhkan waktu setidaknya 6 tahun dengan produk akhir atlas dalam bentuk cetak, serta bentuk online yang terus diperbaharui.
Senin, 05 Oktober 2009
24 Pulau di Indonesia Hilang, Ribuan Lainnya Terancam
Freddy menyatakan, ke-24 pulau ini hilang akibat tsunami Aceh pada 2004, abrasi, dan kegiatan penambangan pasir yang tidak terkendali. Pulau-pulau ini di antaranya Pulau Gosong Sinjai di NAD akibat tsunami, Mioswekel di Papua akibat abrasi, dan Lereh di Kepulauan Riau akibat penambangan pasir. Pemanasan global, ucapnya, menjadi ancaman paling konkret dan berbahaya bagi pulau-pulau lain di Tanah Air.
Menurut analisis bersama Departemen Kelautan Perikanan RI dan PBB, pada tahun 2030, sekitar 2.000 pulau kecil di Indonesia akan lenyap. "Saya punya list-nya, tetapi tidak bisa diungkapkan di sini," ujarnya. Dikatakan Freddy, kenaikan permukaan laut bisa mencapai lebih dari 2 meter jika tidak ada penanganan serius dalam menghentikan laju pemanasan global.
Tidak hanya di pulau-pulau kecil, dalam simulasi dampak perubahan iklim, sebagian wilayah pesisir utara Jakarta akan tenggelam. "Bandara Soekarno-Hatta pun akan tenggelam jika tidak ada upaya serius mengurangi laju pemanasan global. Percaya sama saya, adik-adik sekalian kalau masih hidup di masa itu suatu hari akan mengingat omongan saya ini," ujarnya.
Ancaman tenggelamnya pulau akibat kenaikan permukaan laut, ucapnya, bukanlah isapan jempol. "Sekarang, telah betul-betul terjadi," ucapnya memberikan contoh negara Kepulauan Kiribati dan Tuvalu. "Presiden Kiribati telah meminta warga dunia untuk menampung warganya karena 'negeri' mereka telah hilang," tuturnya. Warga-warga dari negara yang berada di Samudra Pasifik ini telah ditampung di Australia dan Selandia Baru.
Jalur Padang-Bengkulu Putus
Hujan deras yang mengguyur Sumatera Barat, Minggu malam hingga Senin (5/10) siang, menyebabkan jalan lintas barat Sumatera jalur Padang-Bengkulu terputus di Kilometer 43, di Baruang-Baruang Belantai, Kabupaten Pesisir Selatan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumatera Barat Dody Ruswandi mengatakan, putusnya jalan di kawasan pesisir selatan itu karena badan jalan terban (ambles) digerus arus sungai sepanjang 30 meter. "Jalan alternatif tidak ada sehingga kini ratusan kendaraan antre, baik menuju Painan dan Bengkulu, maupun sebaliknya," katanya.
Menurut Dody, pihaknya sepanjang Senin sudah menurunkan petugas dan alat berat untuk langkah penanggulangan. Selasa besok akan diupayakan agar kendaraan bisa melewati jalan yang masih darurat. Sementara itu, badan jalan lintas tengah Sumatera jalur Padang-Solok yang putus di kawasan Panorama Sitinjau Lauik, Kota Padang, yang menyebabkan dua kendaraan tertimbun, sudah mulai pulih.
Dody mengingatkan pengendara agar berhati-hati jika hujan. Kawasan perbukitan rawan longsor, dan kawasan jalan pinggir sunggai rawan ambles. "Berhentilah melewati daerah rawan jika hujan lebat. Setelah mereda, silakan lanjutkan perjalanan," katanya.
Kenapa Gempa 7,6 SR di Laut Tak Memicu Tsunami?
Gempa di Provinsi Sumatra Barat pada Rabu (30/9) petang tidak memicu tsunami padahal termasuk sangat besar dengan kekuatan 7,6 SR dan di laut. Hal tersebut mungkin karena pusat gempa 71 km di bawah permukaan laut dalam tidak cukup kuat untuk mengangkat kulit bumi.
"Pada kedalaman tersebut gempa tidak cukup kuat untuk menimbulkan tsunami. Apabila terjadi gempa susulan, biasanya kekuatannya lebih kecil," demikian Kepala Badan Geologi, Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral, R Sukhyar mengatakan di Jakarta, Rabu. .
Sebelumnya Pusat Peringatan Tsunami pacific (PTWC) melansir peringatan potensi tsunami untuk wilayah Sumatera bagian barat dan negara-negara Asia Selatan. Namun, peringatan tersebut dicabut satu jam kemudian. Sementara BMKG menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Menurut Sukhyar, gempa tersebut terjadi akibat pertemuan atau penunjaman lempeng tektonik Samudera Hindia di bawah lempeng Asia di pantai barat Sumatra. Gempa tektonik berkekuatan 7,6 pada skala Richter itu mengguncang Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) pada Rabu pukul 17.16 WIB.
Keterangan yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan gempa terjadi pada episentrum 0,84 Lintang selatan (LS) dan 99,65 bujur timur (BT), kira-kira 57 km barat laut Pariaman Provinsi Sumbar.
Gempa juga dirasakan di beberapa wilayah lain di Pulau Sumatra seperti Bengkulu, Medan, Pekanbaru, Aceh, Batam, bahkan hingga ke negara tetangga Singapura. Akibat gempa tersebut, warga panik berhamburan keluar gedung.